MERANTAU : BERANI VS NEKAT 1 (PENGALAMAN NAIK KERETA API JAMAN DULU)

KERETA TEGAL ARUM EKONOMI (BREBES - JAKARTA 2009)
Saya merantau ke Jakarta tahun 2009.
Saya masih ingat saat itu naik kereta Ekonomi yang penuh sesak, kaki mau geser saja sangat sulit sakit penuhnya orang-orang dan barang-barang yang ada di dalam kereta.
Karcis kereta pada saat itu masih yang karton kotak kecil (kurleb5x3 cm)
Gambaran dan bentuk tiket mungkin kalian bisa bayangkan kertas karton yang tebal warna pink, dan akan selalu ada petugas yang akan memeriksa di dalam kereta dan di bolongi dengan alat catut yang ia bawa kemana-mana.

Saya berangkat dari Stasiun Brebes turun di Stasiun Senen.
Harga tiket pada saat itu hanya Rp 15.000-16.000 an.
Jika ingin lebih leluasa/ bernapas sejenak bisa ke gerbong restorasi namun untuk pesan makanan disana relatif cukup mahal, contohnya nasi goreng/ rames kita harus mengeluarkan kocek kurleb Rp 25.000 jika saya tidak salah ingat (mohon maaf jika salah tolong koreksi). 
Nama keretanya adalah Tegal Arum pada waktu itu.
Itu adalah kereta kebanggaan wong Pantura yang ingin ke Jakarta tanpa harus bermacet-macetan dan tidak perlu menempuh waktu yang lama (Tol Cipali saat itu belum ada, jika naik bis harus menempuh minimal 8 jam itupun kondisi lancar dan bis malam).

Didalam kereta suasana hiruk pikuk, penuh sesak, oleh penumpang, barang, maupun oleh banyaknya pedagang.
Banyak pedagang barang dan jasa bisa dengan mudah kita cari didalam kereta ini.
Dari pedagang makanan (pecel sayur, kerupuk), pedagang sandal, pedagang kacamata, pedagang lem, pedagang buku, tabloid, bahkan jasa ukur tensi pun ada juga di dalam kereta.

Jika kita berharap tidur nyenyak selama di perjalanan didalam kereta agak mustahil ya mengingat kondisi tempat duduknya dengan seat 2-3 orang dan sandaran punggung sangat tegak sehingga kurang nyaman.
Apalagi jika tempat duduk kita terletak di paling pinggir yang mana di dekat jalan untuk orang lewat lalu lalang baik penumpang maupun pedagang. 



Kereta Api KALIGUNG (TEGAL - SEMARANG)
Sebelum merantau ke Jakarta dari Brebes di tahun 2009. Sebenanrnya saya sudah sering naik kereta dari Brebes ke Semarang.
Tapi untuk naik kreta tidak bisa dari Brebes melainkan harus ke Tegal dulu. Di Semarang akan berhenti di Stasiun Poncol.

Kereta Kaligung ini saya lebih sering beli tiket Ekonomi tanpa tempat duduk (sistem nya rebutan tempat duduk adu cepat sama yang lain). Sehingga untuk menyiasati hal tsb agar tidak usah rebutan, saya datang lebih awal untuk ke Depo (tempat parkir kereta sebelum mulai pemberangkatan dari Stasiun awal keberangkatan) terlebih dahulu sehingga saat kereta ke Stasiun awal pemberangkatan, saya sudah duduk manis didalam kereta dan dapat tempat duduk tanpa rebutan. 

Saya masih ingat sekali dulu selalu diantar Abah ke Stasiun Tegal. Kami sengaja berangkat lebih awal agar kami bisa ke Depo nya.

Kami parkir motor di Stasiun Tegal, lalu kami jalan kaki kurleb 1 KM an menyusuri lewat rel bebatuan dari Stasiun Tegal. Sepanjang jalan rel bebatuan yang kami susuri memang batu disamping kanan kiri rel namun terkadang tercium aroma kurang enak (mungkin karena pembuangan wc dari kereta ya karena jika ada orang buang air kecil/BAB pasti akan langsung turun kebawah (jatuh ke rel).

Harga tiket kereta api Kaligung saat itu adalah Rp 16.000 yang Ekonomi dengan sistem adu cepat rebutan tempat duduk.
Saya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri di Ibu Kota Jawa Tengah dari tahun 2004 hingga 2008 (akan ada blog selanjutnya yang menceritakan tentang gimana saya bisa kuliah disana ya..).

Pernah dulu suatu ketika selesai libur lebaran waktu nya kuliah kembali. Keadaan kereta Kaligung sangat penuh sehingga kami berebutan tempat begitu kereta berhenti kami adu cepat sehingga terkadang saya naik lebih dulu, Abah saya belakangan naik untuk membawakan barang-barang saya.
Saat Abah saya naik dan menghampiri saya dengan memanggul kardus di pundak kanannya, dia tidak sadar jika kancing baju kemejanya semua terbuka (kemungkinan karena berdesakan dengan penumpang lain di dalam kereta).
Ada rasa ingin tertawa namun terkalahkan oleh rasa kasihan dan merasa jahat terhadap ayah sendiri.

Ayah saya lah selama ini yang selalu dengan setia mengantarkan saya siang bolong panas-panasan ke Terminal Bis Tegal / ke Stasiun Tegal dari Brebes.

Keluarga kami bukan orang yang bisa dengan mudah mengungkapkan rasa cinta dan sayang.
Sehingga begitu pun dengan saya. Ingin rasanya mengungkapkan sayang dan terima kasih atas jasa dan kasih sayang orang tua, namun sangat sulit.
Hanya doa yang bisa kupanjatkan semoga Allah memberi mereka kesehatan dan kebahagiaan di sisa masa tua mereka di dunia. Aamiin

Back to the topic.. (Kereta)
Sejak kepemimpinan pak Ignatius Jonan (mohon maaf jika salah penulisan nama) sangat banyak perubahan dalam segala bidang Perkeretaapian di Indonesia. Dari infrastruktur hingga pelayanan nya. 
Sangat kagum dan bangga dengan beliau, berkat beliau kita sekarang sudah bisa merasakan kenyamanan naik kereta api.

Saat ini teringat masa dulu merantau, kadang ada rasa kangen ke masa itu, menyesal dulu tidak punya dokumentasi bahkan tiket pun tidak saya simpan, tidak tahu jika itu akan menjadi langka di kemudian hari. 

Sekian dulu, semoga bisa memberi kalian gambaran tentang suasana kereta pada jaman dulu ya..
Next time akan ku enrichment yaa untuk story nya jika ada waktu senggang.. 

Terima kasih sudah membaca :)

Komen yaa jika kamu punya pengalaman yang sama/ tertarik dengan tulisan ini :)

Comments